ppg.umsida.ac.id — Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Pembimbingan PPL PPG menjadi salah satu aspek penting dalam menyiapkan mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Calon Guru agar mampu berkembang melalui pengalaman praktik di sekolah. Untuk memperkuat proses tersebut, Program Studi PPG Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) mengikutsertakan satu Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan satu Guru Pamong (GP) dalam Bimbingan Teknis Pembimbingan dan Pendampingan PPL PPG bagi Calon Guru Tahap 2 yang berlangsung pada 9–11 Juni 2026.
Pembimbingan PPL PPG Perkuat Peran DPL dan Guru Pamong sebagai Mentor

Dalam Pembimbingan PPL PPG, DPL dan Guru Pamong memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar memberikan arahan dan melakukan penilaian. Keduanya menjadi mentor yang mendampingi mahasiswa sejak mengenali lingkungan sekolah hingga menjalankan praktik pembelajaran secara lebih mandiri.
Materi bimtek mengenalkan sembilan peran yang dapat dijalankan mentor, yaitu sebagai narasumber (resource person), pemecah masalah (problem solver), teladan (role model), penilai (evaluator), pendukung (supporter), pemberi tantangan (challenger), konselor (counselor), mitra pembelajar (co-learner), dan mitra penemu (co-enquirer).
Peran tersebut tidak selalu muncul dalam porsi yang sama. Pada setiap tahapan PPL, DPL dan Guru Pamong perlu menyesuaikan bentuk pendampingan dengan kebutuhan mahasiswa. Ketika mahasiswa berada pada tahap orientasi dan observasi, misalnya, peran sebagai narasumber dan pemecah masalah lebih dibutuhkan. Sementara ketika mahasiswa mulai menjalankan praktik pembelajaran terbimbing, peran mentor berkembang menjadi pendukung, penilai, konselor, pemberi tantangan, mitra pembelajar, hingga mitra penemu.
Pendekatan tersebut menempatkan mahasiswa sebagai individu yang perlu diberi ruang untuk berkembang. Mentor tidak selalu harus memberikan jawaban atas setiap persoalan yang dihadapi mahasiswa. Dalam panduan pembimbingan, mentor justru didorong untuk membantu mentee mengembangkan kapasitas berpikir mandiri dan belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.
Hal ini menjadi penting karena PPL merupakan ruang bagi mahasiswa untuk mengalami secara langsung dinamika profesi guru. DPL dan Guru Pamong berperan menjaga agar pengalaman tersebut tidak berhenti pada aktivitas mengajar, tetapi menjadi proses belajar yang membantu mahasiswa mengenali kekuatan, kebutuhan pengembangan, serta tanggung jawab profesionalnya sebagai calon guru.
Pembimbingan PPL PPG Terapkan Mentoring yang Reflektif dan Terarah

Penguatan Pembimbingan PPL PPG dalam bimtek juga dilakukan melalui pemahaman terhadap tahapan mentoring. Materi membagi proses mentoring ke dalam empat tahapan utama, yakni persiapan, negosiasi, proses tumbuh, dan penutupan. Setiap tahap memiliki fungsi yang berbeda dalam membangun hubungan antara mentor dan mahasiswa.
Pada tahap persiapan, mentor diajak mengenali dirinya sendiri dan membangun hubungan yang baik dengan mahasiswa. Hubungan mentor dan mentee menjadi landasan karena proses pembimbingan membutuhkan rasa saling percaya, komunikasi yang terbuka, serta komitmen untuk menjalani proses belajar bersama.
Tahap berikutnya adalah negosiasi. DPL, Guru Pamong, dan mahasiswa perlu menyepakati tujuan yang ingin dicapai selama proses pendampingan. Materi bimtek menggunakan pendekatan SMART, yakni Specific, Measurable, Attainable, Relevant, dan Time-bound, sehingga tujuan mentoring dapat dirumuskan secara konkret, terukur, realistis, relevan, dan memiliki batas waktu.
Setelah tujuan disepakati, mentoring memasuki proses tumbuh. Pada tahap ini mentor mendampingi mahasiswa menghadapi keberhasilan maupun kesulitan selama PPL, memberikan dorongan, mengelola waktu pendampingan, serta terlibat dalam proses pemberian umpan balik. Tahap terakhir adalah penutupan yang diisi dengan refleksi, melihat kembali ketercapaian tujuan, memberikan apresiasi atas perkembangan mahasiswa, serta merancang tindak lanjut.
Pola tersebut membuat pembimbingan lebih terarah. Mahasiswa mengetahui tujuan yang hendak dicapai, sementara DPL dan Guru Pamong memiliki pijakan yang lebih jelas dalam memberikan pendampingan sesuai perkembangan mahasiswa.
Pembimbingan PPL PPG Diperkuat melalui Praktik Mentoring

Bimbingan teknis tidak berhenti pada pembahasan konsep Pembimbingan PPL PPG. Peserta juga mengikuti praktik role play untuk menerapkan tahapan mentoring pada situasi yang berkaitan langsung dengan pelaksanaan PPL.
Dalam praktik tersebut, peserta menyusun skenario mentoring berdasarkan tahapan PPL, seperti observasi, asistensi mengajar, praktik pembelajaran terbimbing, praktik pembelajaran mandiri, hingga kegiatan nonmengajar. Setiap kelompok menentukan peserta yang berperan sebagai DPL, Guru Pamong, dan mahasiswa. Skenario juga diarahkan untuk memunculkan peran mentor yang sesuai dengan kebutuhan pada setiap tahapan PPL.
Praktik tersebut dilengkapi dengan penyusunan SMART Goal mahasiswa dan learning contract antara DPL, Guru Pamong, dan mahasiswa. Setelah role play, peserta lain memberikan umpan balik dengan mencermati ketepatan tahapan mentoring, peran mentor yang telah muncul, serta aspek yang masih perlu diperkuat.
Melalui proses tersebut, DPL dan Guru Pamong tidak hanya memahami mentoring sebagai konsep, tetapi juga berlatih menerapkannya dalam situasi yang dekat dengan pengalaman pendampingan mahasiswa di sekolah. Peserta juga diajak melakukan refleksi terhadap kesiapan dirinya sebagai mentor dan mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu dikembangkan.
Keikutsertaan perwakilan PPG UMSIDA dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas pendampingan mahasiswa selama PPL. Kompetensi mentoring yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi DPL dan Guru Pamong dalam membangun pendampingan yang lebih terarah, reflektif, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan mahasiswa.
Melalui penguatan Pembimbingan PPL PPG, peran DPL dan Guru Pamong diharapkan tidak hanya hadir ketika mahasiswa membutuhkan arahan, tetapi menjadi mitra yang membantu calon guru belajar dari setiap pengalaman praktiknya. Pendampingan yang baik pada akhirnya memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bertumbuh, melakukan refleksi, serta semakin mandiri dalam menjalankan perannya sebagai calon pendidik profesional.
Penulis: Citra Azizah

















