ppg.umsida.ac.id — Program Studi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menyelenggarakan Workshop Kampanye Anti Bullying Mahasiswa PPG Calon Guru (CAGUR) Gelombang 1 Tahun 2026 pada Jumat, 06 Maret 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Kampus 3 UMSIDA sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran serta kompetensi calon guru dalam mencegah dan menangani praktik perundungan di lingkungan sekolah.
Workshop ini diikuti oleh mahasiswa PPG CAGUR Gelombang 1 Tahun 2026 bersama dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan PPG UMSIDA. Kegiatan Workshop Kampanye Anti Bullying menjadi salah satu langkah edukatif yang dirancang untuk membekali calon guru dengan pemahaman komprehensif mengenai bentuk, dampak, serta strategi pencegahan bullying di dunia pendidikan.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mendapatkan wawasan teoritis, tetapi juga pengalaman reflektif dan praktis yang membantu mereka memahami pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, serta menghargai keberagaman peserta didik.
Workshop Kampanye Anti Bullying sebagai Penguatan Karakter Calon Guru

Dalam laporan kegiatan Workshop Kampanye Anti Bullying, Koordinator Program Studi PPG UMSIDA Dr. Mohammad Faizal Amir, M.Pd. menegaskan bahwa isu bullying di sekolah merupakan tantangan nyata yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan saat ini.
Menurutnya, guru memiliki peran strategis sebagai pihak yang paling dekat dengan peserta didik di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, calon guru perlu memiliki kepekaan sosial serta kemampuan pedagogik untuk mengidentifikasi dan mencegah praktik perundungan sejak dini.
“Guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga berperan sebagai pembimbing dan pelindung bagi peserta didik. Melalui Workshop Kampanye Anti Bullying ini, mahasiswa PPG diharapkan memiliki kesadaran dan keberanian untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman serta bebas dari kekerasan,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam upaya mencegah bullying di sekolah. Guru perlu membangun komunikasi yang empatik dengan peserta didik sekaligus menciptakan budaya kelas yang menghargai perbedaan.
Melalui Workshop Kampanye Anti Bullying, mahasiswa PPG UMSIDA diajak memahami bahwa upaya pencegahan perundungan harus dilakukan secara sistematis melalui pendekatan pendidikan, keteladanan, serta penguatan nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pembelajaran.
Workshop Kampanye Anti Bullying dalam Perspektif Hukum dan Perlindungan Peserta Didik

Pada sesi materi pertama dalam Workshop Kampanye Anti Bullying, pemaparan disampaikan oleh Rifqi Ridlo Pahlevy, S.H., M.H. dengan judul Memahami Konstruksi Hukum Bullying. Dalam materinya, ia menjelaskan bahwa bullying merupakan tindakan agresif yang dapat berupa kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis yang dilakukan secara berulang dengan tujuan menyakiti atau mendominasi orang lain.
Ia menjelaskan bahwa meskipun istilah bullying tidak secara eksplisit disebutkan dalam peraturan perundang-undangan, berbagai bentuk tindakan yang termasuk dalam kategori perundungan dapat dijerat melalui berbagai ketentuan hukum pidana, seperti penganiayaan, penghinaan, pencemaran nama baik, maupun intimidasi.
Melalui materi ini, peserta Workshop Kampanye Anti Bullying memperoleh pemahaman bahwa penanganan kasus perundungan perlu dilakukan secara profesional, dengan mempertimbangkan aspek hukum, psikologis, serta pendekatan edukatif yang berorientasi pada pemulihan.
Workshop Kampanye Anti Bullying melalui Pendekatan Edukatif dan Sosiodrama

Materi berikutnya dalam Workshop Kampanye Anti Bullying disampaikan oleh Ghozali Rusyid Affandi, S.Psi., M.A. dengan judul Bullying di Sekolah: Cara Mengetahui dan Pencegahannya. Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa guru merupakan pihak yang berada di garis terdepan dalam mendeteksi dan mencegah praktik perundungan di lingkungan sekolah.
Menurutnya, langkah pencegahan bullying dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti mengamati perubahan perilaku siswa, memahami dinamika pertemanan di kelas, serta menciptakan ruang aman bagi siswa untuk menyampaikan pengalaman mereka.
Ia juga menekankan bahwa program pencegahan bullying harus melibatkan seluruh unsur sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga orang tua, serta dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari budaya sekolah yang positif.
Sebagai bagian dari metode pembelajaran yang interaktif, pada akhir sesi Workshop Kampanye Anti Bullying, mahasiswa mengikuti kegiatan sosiodrama anti-bullying.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diminta memerankan berbagai skenario perundungan yang sering terjadi di lingkungan sekolah, seperti cyberbullying, pengucilan di kelas, maupun tindakan intimidasi antar siswa.
Setiap kelompok menampilkan drama singkat yang menggambarkan konflik serta upaya penyelesaiannya. Setelah penampilan tersebut, peserta diajak melakukan refleksi bersama untuk memahami perasaan korban, peran saksi, serta pentingnya keberanian dalam mencegah perundungan.
Pendekatan sosiodrama ini bertujuan melatih empati dan sensitivitas sosial mahasiswa sebagai calon guru. Melalui pengalaman tersebut, mahasiswa dapat memahami secara langsung dampak psikologis dari tindakan bullying sekaligus belajar mengambil peran aktif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan inklusif.
Penulis: Citra Azizah


















